KATA
PENGANTAR
Puji dan Syukur kita panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga saya dapat menyusun
makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini saya
membahas mengenai analisis usaha rumput laut.
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa
bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan
selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar
pada makalah ini. Oleh karena itu saya mengundang pembaca untuk memberikan
saran serta kritik yang dapat membangun. Kritik konstruktif dari pembaca sangat
di harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir
kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.
Palangka Raya
November 2013
Penulis
i
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I
PENDAHULUAN 1
1.1
Latar
Belakang 1
1.2 Permasalahan 2
1.3 Tujuan 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Sistematika 3
2.2 Morfologi 3
2.3 Syarat Tumbuh 3
BAB III
TEKNIK BUDIDAYA 5
3.1Pemilihan Lokasi 5
3.2 Kontruksi Tambak 5
3.3 Pengapuran 5
3.4Penyediaan Bibit 5
3.5Penanaman 5
3.6pemeliharaan dan pemupukan 5
3.7Pengendalian Hama dan Penyakit 6
3.8Panen 6
3.9
Pascapanen 6
BAB
IVANALISA USAHA TANI 7
4.1 Analisa Usaha 7
BAB VKESIMPULAN SARAN 8
5.1
KESIMPULAN 8
5.2 SARAN 8
DAFTAR PUSTAKA 9
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sektor pertanian mempunyai peran yang sangat besar dalam
perekonomian nasional, terutama sumbangannya tehadap Pendapatan Domestik Bruto
(PDB) dan devisa negara, tetapi belum mengangkat pendapatan petani.
Budidaya rumput laut yang dikembangkan dimasyarakat tani
tambak, keberadaannya cukup memberikan andil dalam menciptakan lapangan kerja
dan dapat mengatasi tingkat pengangguran dengan memanfaatkan angkatan kerja
terutama proses pasca panen.
Tingkat pertumbuhan ekonomi nasional ditentukan oleh
pelaksanaan dan hasil-hasilpembangunannasional
serta kemampuan pemerintah dalam membangkitkan kegairahan dan partisipasi
seluruh rakyat dalam melaksanakan pembangunan. Semakin tinggi pertumbuhan
perekonomian, semakin besar pula sarana-sarana yang dapat disediakan untuk
kepentingan masyarakat.
Sarana yang disediakan mencakup sarana pertanian yang dikembangkan
untuk memberdayakan kehidupan masyarakat petani yang ada di pelosok desa.
Pelaksanaan pembangunan pertanian yang dilakukan untuk meningkatkan swasembada
pangan membutuhkan kerja keras dan kerja sama antara pemerintah dan petani
serta masyarakat umumnya yang berhubungan dengan sektor pertanian. Kerja keras
dalam arti bahwa semua sumber daya dan perhatian diarahkan pada program kerja
guna meraih hasil yang diinginkan.
Salah satu komoditi unggulan sektor pertanian seperti rumput laut
telah menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat Sulawesi Tenggara
khususnya di Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton saat ini.
Rumput laut merupakan komoditi yang potensial
dalam memberikan kontribusi pada pendapatan keluarga petani. Komoditi
rumput laut ini telah dibudidayakan di Desa Wawoncusu dengan luas lahan 27 ha
dengan 23 orang petani.
Kegiatan usahatani yang dilakukan masyarakat terdiri dari beragam
usaha selain bercocok tanam dilakukan juga kegiatan pemasaran hasil usahatani.
Hasil usahatani sering dipasarkan secara langsung kepada pedagang pengumpul
dengan tingkat harga yang relatif rendah dibandingkan dengan penjualan yang
dilakukan oleh petani secara langsung ke pasar.
Budidaya tanaman rumput laut dilakukan masyarakat di Desa Wawoncusu
karena wilayah ini sangat cocok ditumbuhi tanaman rumput laut, sehingga
usahatani rumput laut menjadi salah satu kegiatan petani yang ada di Desa
Wawoncusu, selain itu masyarakat lebih menguasai cara budidaya rumput laut yang
bersifat tradisional. Tidaklah heran jika tanaman rumput laut diperhadapkan
dengan masalah hama. Kondisi ini menyebabkan masyarakat di Desa Wawoncusu
menbutuhkan bantuan pemerintah melalui Dinas Pertanian untuk membantu petani
rumput laut dalam mengatasi permasalahan petani rumput laut tersebut dan
sekaligus memberikan pemahaman kepada petani guna meningkatkan produksi dan
kualitas hasil panen rumput laut.
1
Di sisi lain petani selalu berusaha untuk meningkatkan hasil produksi
rumput laut dengan harapan untuk menjual produksi rumput laut pada tingkat
harga yang dapat memberikan keuntungan guna dapat meningkatkan kesejahteraan
keluarganya. Adanya kebijakan harga terhadap komoditi rumput laut membuat
kegiatan petani selalu berusaha untuk memasarkan komoditi rumput laut kepada
pasar secara langsung.
Jika dilihat dari
segi perekonomian, pendapatan petani rumput laut di Desa Wawoncusu dapat
dikatakan di atas rata-rata. Hal tersebut dapat dilihat dari terpenuhinya
kebutuhan sehari-hari mereka hingga dapat membiayai pendidikan anak mereka
hingga ke perguruan tinggi.
Dari uraian yang dikemukakan di atas, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul ”Analisis Produksi, Pendapatan
dan Pemasaran Rumput laut di Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten
Buton”.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan beberapa masalah
yang dihadapi yaitu :
1.
Berapakah pendapatan yang diperoleh
petani dalam satu siklus produksi budidaya rumput laut
2.
Bagaimana efisiensi penggunaan biaya
produksi dalam budidaya rumput laut yang dikelolah petani
1.3 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.
Untuk mengetahui besarnya pendapatan
yang diperoleh petani dari budidaya rumput laut
2.
Untuk mengetahui efisiensi
penggunaan biaya produksi dalam budidaya rumput laut yang dikelolah petani
2
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Sistematika
Divisio
:Rhodophyta
Kelas :Florideophyceae
Ordo :Gracilariales
Famili :Gracillariaceae
Genus : gracillaria
Spesies :Eucheumaspinosum
Kelas :Florideophyceae
Ordo :Gracilariales
Famili :Gracillariaceae
Genus : gracillaria
Spesies :Eucheumaspinosum
2.2
Morfologi
Morfologi rumput laut jenis gracillaria sp tidak memiliki
perbedaan antara akar, batang,dan daun. Tanaman ini berbentuk batang yang
disebut dengan talus dengan berbagai bentuk percabangannya, secara alami
gracillaria hidup dengan melekatkan tallusnya pada subtrat yang berbentuk
pasir, lumpur, karang mati, batu.
2.3
Syarat Tumbuh
Tahap awal yang perlu diperhatikan dalam
mengembangkan budidaya gracilaria dalam tambak, antara lain adalah
keadaaan tambak yang akan digunakan (termasuk dasar tambak sebagai substrat),
kualitas air dalam tambak dan sekitarnya, serta bibit tanaman baik mengenai
jenis dan kualitasnya.
a. Keadaan Tambak
- Keadaan dasar tambak yang paling ideal
adalah pasir yang mengandung lumpur atau tanah yang mengandung pasir dengan
sedikit lumpur. Perlu diusahakan supaya dasar tambak tidak terlalu banyak
mengandung lumpur (ketebalan lumpur maksimal 15 sampai 20 cm) dan bila
dipandang perlu dapat dilakukan pengurasan lumpur. Beberapa alternatif
bentuk/disain tambak dapat dilihat pada lampiran.
- Tambak harus bersih dari tanaman lain yang
dapat membusuk, terutama yang dapat meningkatkan derajat keasaman dasar tambak.
Derajat keasaman (pH) dasar tambak berkisar antara 6 sampai 9 dan yang paling
ideal adalah sekitar 6,5 sampai 8,5. Untuk mengurangi keasaman dapat dilakukan
terlebih dahulu "penebaran kapur".
- Tambak harus memiliki saluran air yang baik
dan bersih (tidak terlalu banyak mengandung lumpur), serta setiap petak tambak
diusahakan memiliki 2 (dua) buah pintu air, yang akan berfungsi sebagai pintu-pintu
untuk air masuk dan air keluar.
- Pasang-surut air laut harus mempengaruhi
kondisi air di dalam tambak untuk melakukan pergantian air.
3
- Gelombang atau arus air di dalam tambak
(sebagai akibat angin atau pengaruh pasang surut) diupayakan tidak terlalu
besar, sehingga tidak mengakibatkan berkumpulnya tanaman pada suatu tempat
tertentu. Akan tetapi gelombang dan arus air di dalam tambak harus cukup untuk
memberikan gerakan bagi tanaman.
- Pematang tambak supaya diusahakan cukup
rapih dan dapat digunakan sebagai sarana jalan dalam pengelolaan tambak
dan/atau dapat difungsikan pula sebagai tempat penjemuran hasil panen dengan
menggunakan alas.
b. Kualitas Air
1. Salinitas air berkisar antara 12o/oo - 30o/oo dan yang ideal sekitar 15o/oo - 25o/oo,
2. Suhu air berkisar antara 180C sampai 300C dan yang ideal sekitar 200C sampai 250 C.
3. pH air dalam tambak berkisar antara 6 sampai 9 dan yang ideal sekitar 6,5 sampai 8,5.
4. Air tidak mengandung lumpur sehingga kekeruhan (turbidity) air masih cukup bagi tanaman untuk menerima sinar matahari.
1. Salinitas air berkisar antara 12o/oo - 30o/oo dan yang ideal sekitar 15o/oo - 25o/oo,
2. Suhu air berkisar antara 180C sampai 300C dan yang ideal sekitar 200C sampai 250 C.
3. pH air dalam tambak berkisar antara 6 sampai 9 dan yang ideal sekitar 6,5 sampai 8,5.
4. Air tidak mengandung lumpur sehingga kekeruhan (turbidity) air masih cukup bagi tanaman untuk menerima sinar matahari.
4
BAB
III
TEKNIK
BUDIDAYA
3.1
Pemilihan Lokasi
Sebagaimana di laut, rumput laut di tambak juga membutuhkan
beberapa persyaratan tertentu yaitu :
a.
Berada disepanjang pantai dengan
perairan langsung dari laut atau saluran air
b. Kedalaman rata-rata 70cm
c.
Airnya jernih sehingga matahari
dapat tembus kedasar tambak untuk proses fotosintesa
d. Pemasukan dan pengeluaran air mudah
dilaksanakan setiap saat dibutuhkan
e.
Bebas dari pengaruh air tawar yang
berlebihan
f.
Dasar tambak rata dan bersih.
3.2
Kontruksi Tambak
a.
Pematang wiling harus kuat dan bebas
dari bocoran
b. Tinggi rata-rata 1m
c.
Pintu air 2 buah untuk pemasukkan
dan pengeluaran
3.3
Pengapuran
Sebelum penebaran bibit dilakukan maka terlebih dahulu dilakukan pengapuran
yang bertujuan untuk menjernihkan air dan menstabilkan pH dan O2,
3.4Penyediaan
Bibit
Berdasarkan pengalaman para petani rumput laut, bibit yang
paling cocok untuk dibudidayakan adalah bibit lokal, karena disamping mudah
dalam hal pengadaannya juga bibit tersebut telah cocok dengan persyaratan untuk
pertumbuhannya secara alami.
Akan tetapi bila ternyata pada lokasi yang telah ditentukan
tidak terdapat bibit lokal yang dikehendaki, maka dapat pula dilakukan dengan
cara mendatangkan bibit yang sesuai dengan yang dikehendakidari lokasi lain.
Bila terjadi hal yang demikian, maka yang harus diperhatikan adalah bagaimana
cara membawa bibit tersebut dengan sebaik-baiknya agar tidak terjadi kerusakan
selama dalam perjalanan.
3.5Penanaman
1. Terlebih dahulu tambak dialiri air
sedalam 50-70cm
2. Bibit yang telah disediakan ditebar
secara merata di tambak
3. Air dipertahankan selama 3-5 hari
setelah penebaran, agar rumput laut tumbuh secara merata tanpa terganggu oleh
arus air
3.6pemeliharaan
dan pemupukan
Dalam pemeliharaan rumput laut, perawatan kualitas air dan
kejernihan air sangat penting agar rumput laut tumbuh secara optimal. Pada saat
air tambak tenang, rumput laut digoyang agar bersih dan tidak mengganggu proses
metabolisme sehingga laju pertumbuhan cepat.
5
Pemberian pupuk pada rumput laut tidak sama dengan pemberian
pupuk pada tanaman lain. Pupuk yang diberikan adalah urea sebanyak 50kg/ha dan
NPK Ponska sebanyak 35kg/ha, dengan dosis pemupukan adalah :
-
25kg urea di campur dengan 20kg NPK
Ponska pada saat umur tanaman 15 hari setelah tabur
-
25kg urea dan 15kg NPK Ponska 10
hari sebelum panen.
3.7Pengendalian
Hama dan Penyakit
Tanaman rumput laut termasuk tahan hama kecuali ikan
baronang dan lumut, cara pengendalian adalah dengan cara diversifikasi bandeng
untuk membasmi lumut sedangkan untuk pengendalian hama ikan lainnya (baronang)
digunakan pestisida,seperti drosban.
3.8Panen
Tanaman rumput laut dapat dipanen bila usia pemeliharaan
sudah mencapai 25 – 30 hari. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemanenan antara lain :
a.
Panen dilakukan saat air disurutkan
b. Panen dilakukan saat umur tanaman
35-40 hari, selanjutnya setelah 26-30 hari
c.
Panen dilakukan dengan cara memetik
tanaman secara merata dengan meninggalkan sebagian sebagai bibit
d. Setelah panen selesai segera
dimasukkan air baru kemudian dilakukan pemupukan ulangan
3.9 Pascapanen
a.
Rumput laut di cuci dan dibersihkan
b. Penjemuran dilakukan diatas pematang
dengan yang dialasi rang atau faring
c.
Lama penjemuran 1-2 hari, atau
tergantung terik matahari
d. Rumput laut yang kering apabila
digenggam dan kemudian dilepaskan akan mengembangkembali dan warnanya coklat
kehijauan dan kehitam-hitaman
e.
Rumput laut yang sudah kering
disimpan pada tempat yang kering dan terlindungi.
6
BAB
IV
ANALISA
USAHA TANI
4.1
Analisa Usaha
Analisa
usaha tani tanaman rumput laut pada tambak seluas 1Ha sebagai berikut :
1. Biaya produksi
- PBB
= Rp 40.000,00
- Bibit 1.000kg @ Rp 1.500
= Rp 1.500.000,00
- Bibit ikan bandeng 600 ekor @ Rp.
150
= Rp 90.000,00
Total fixed
cost
= Rp 1.630.000,00
- Pupuk :
· Pupuk urea 1 sak @ Rp. 120.000
= Rp 95.000,00
· Pupuk NPK 1 sak @ Rp
150.000,00
= Rp 150.000,00
· Kapur 30 sak @ Rp
4.500,00
= Rp 135.000,00
- Pestisida :
· Drosban 1Ltr @ Rp
75.000,00
= Rp 75.000,00
- Biaya tenaga kerja
· Panen 1.500kg @ Rp
600,00
= Rp 900.000,00
· Penanaman 5org @ Rp.
35.000
= Rp 175.000,00
- Penyusutan alat 1 kali proses
produksi
· Perahu dari drum plastik Rp
350.000
= Rp 29.500,00
· Parang @ Rp 60.000
= Rp 5.000,00
· Petibak @ Rp
65.000
= Rp
5.500,00
Total variabel cost =
Rp 1.395.000,00
= Rp 1.630.000 + Rp 1.395.000
= Rp 3.025.000
3. Produksi 1,5 ton = 1.500 kg
4. Harga Rp 4.500,00/kg
5. Total revenju = 1.500 x 4.500 = Rp
6.750.000
6. Profit = Rp 6.750.000 – Rp 3.025.000
= Rp
3.725.000
7. B/C ratio = Rp 3.725.000
Rp 3.025.000
= 1,23
7
BAB
V
KESIMPULAN
SARAN
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
Berdasarkan hasil analisa tingkat
pendapatan petani yang diperoleh dari hasil usaha budidaya rumput laut perpanen
dengan luas tambak 1ha sebesar Rp.3.725.000
2.
Berdasarkan hasil analisa tingkat
penerimaan efisiensi biaya yang digunakan memperlihatkan, bahwa rumput laut
layak diusahakan karena menghasilkan B/C ratio sebesar 1,23 untuk satu kali
proses produksi
5.2 SARAN
Berdasarkan
kesimpulan diatas maka disarankan beberapa hal sebagai berikut :
1.
Pemberian dan pemakaian sarana
produksi bibit, pupuk, pengendalian Hama penyakit perlu ditingkatkan untuk
mendapatkan produksi yang optimal
2.
Penanganan proses rumput laut
seperti waktu panen, kebersihan, kekeringan dan pengepakan harus mengikuti
perlakuan teknis sehingga dapat bersaing di pasaran terutama untuk mendapatkan
nilai jual yang tinggi.
8
DAFTAR PUSTAKA
Anggadiredja,
J.T., Achmad Z., Heri P., Sri A.. 2006. Rumput Laut. Penebar Swadaya. Jakarta.
Poncomulyo, T., H.
Maryani, dan L. Kristiana. 2006. Budidaya dan PengolahanRumput Laut. PR
Agromedia Pustaka, Jakarta.
Suryati, E., A.
Parenrengi dan RachmanSyah.2007.RisetPengembanganRumput Laut melalui Kultur
Jaringan dan Fusi Protoplas. Seminar Nasional Breeding, Genetika dan
Bioteknologi Perikanan. Kuta-Bali
Suryati, E., Sulaeman, A., Dalfiah, Rifka Pasandre. 2000. Teknik Kultur Jaringan Gracilaria sp Dalam Rangka Penyediaan Benih pada Budidaya.Prosending
Seminar Hasil Penelitian Perikanan. Jakarta
Sutomo, 2006. Rumput Laut. Jakarta: Pita Merah.
Anggadiredja, 2006. Manfaat Rumput Laut. Jakarta: Usaha
Nasional.
9
MAKALAH AGRIBISNIS PERIKANAN
“ANALISA USAHA RUMPUT LAUT PADA TAMBAK”

DISUSUN OLEH :
NAMA : BENDHARD
NIKO SITUMORANG
NIM : CDA 112
001
PRODI : Manajemen
Sumberdaya Perairan / MSP
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAUKULTAS PERTANIAN
JURUSAN PERIKANAN
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar