Minggu, 01 Februari 2015

MAKALAH AGRIBISNIS PERIKANAN “ANALISA USAHA RUMPUT LAUT PADA TAMBAK”



KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kita panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga saya dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini saya membahas mengenai analisis usaha rumput laut. 

Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. 

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu saya mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun. Kritik konstruktif dari pembaca sangat di harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. 

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian. 



Palangka Raya    November 2013





Penulis


















i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                                                                                                           i

DAFTAR ISI                                                                                                                          ii

BAB I  PENDAHULUAN                                                                                                    1
1.1     Latar Belakang                                                                                                                1
1.2     Permasalahan                                                                                                                   2
1.3     Tujuan                                                                                                                              2

BAB II  TINJAUAN PUSTAKA                                                                                          3
2.1 Sistematika                                                                                                                        3
2.2 Morfologi                                                                                                                          3
2.3 Syarat Tumbuh                                                                                                                  3

BAB III  TEKNIK BUDIDAYA                                                                                          5
3.1Pemilihan Lokasi                                                                                                                5
3.2 Kontruksi Tambak                                                                                                            5
3.3 Pengapuran                                                                                                                       5
3.4Penyediaan Bibit                                                                                                                5
3.5Penanaman                                                                                                                         5
3.6pemeliharaan dan pemupukan                                                                                            5
3.7Pengendalian Hama dan Penyakit                                                                                     6
3.8Panen                                                                                                                                 6
3.9    Pascapanen                                                                                                                       6

BAB IVANALISA USAHA TANI                                                                                      7
4.1 Analisa Usaha                                                                                                                   7

BAB VKESIMPULAN SARAN                                                                                          8
5.1 KESIMPULAN                                                                                                                8
5.2 SARAN                                                                                                                            8

DAFTAR PUSTAKA                                                                                                                        9







ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Sektor pertanian mempunyai peran yang sangat besar dalam perekonomian nasional, terutama sumbangannya tehadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan devisa negara, tetapi belum mengangkat pendapatan petani.
Budidaya rumput laut yang dikembangkan dimasyarakat tani tambak, keberadaannya cukup memberikan andil dalam menciptakan lapangan kerja dan dapat mengatasi tingkat pengangguran dengan memanfaatkan angkatan kerja terutama proses pasca panen.
Tingkat pertumbuhan ekonomi nasional ditentukan oleh pelaksanaan dan hasil-hasilpembangunannasional serta kemampuan pemerintah dalam membangkitkan kegairahan dan partisipasi seluruh rakyat dalam melaksanakan pembangunan. Semakin tinggi pertumbuhan perekonomian, semakin besar pula sarana-sarana yang dapat disediakan untuk kepentingan masyarakat.
Sarana yang disediakan mencakup sarana pertanian yang dikembangkan untuk memberdayakan kehidupan masyarakat petani yang ada di pelosok desa. Pelaksanaan pembangunan pertanian yang dilakukan untuk meningkatkan swasembada pangan membutuhkan kerja keras dan kerja sama antara pemerintah dan petani serta masyarakat umumnya yang berhubungan dengan sektor pertanian. Kerja keras dalam arti bahwa semua sumber daya dan perhatian diarahkan pada program kerja guna meraih hasil yang diinginkan.
Salah satu komoditi unggulan sektor pertanian seperti rumput laut telah menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya di Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton saat ini. Rumput laut merupakan komoditi yang potensial  dalam memberikan kontribusi pada pendapatan keluarga petani. Komoditi rumput laut ini telah dibudidayakan di Desa Wawoncusu dengan luas lahan 27 ha dengan 23 orang petani.
Kegiatan usahatani yang dilakukan masyarakat terdiri dari beragam usaha selain bercocok tanam dilakukan juga kegiatan pemasaran hasil usahatani. Hasil usahatani sering dipasarkan secara langsung kepada pedagang pengumpul dengan tingkat harga yang relatif rendah dibandingkan dengan penjualan yang dilakukan oleh petani secara langsung ke pasar.
Budidaya tanaman rumput laut dilakukan masyarakat di Desa Wawoncusu karena wilayah ini sangat cocok ditumbuhi tanaman rumput laut, sehingga usahatani rumput laut menjadi salah satu kegiatan petani yang ada di Desa Wawoncusu, selain itu masyarakat lebih menguasai cara budidaya rumput laut yang bersifat tradisional. Tidaklah heran jika tanaman rumput laut diperhadapkan dengan masalah hama. Kondisi ini menyebabkan masyarakat di Desa Wawoncusu menbutuhkan bantuan pemerintah melalui Dinas Pertanian untuk membantu petani rumput laut dalam mengatasi permasalahan petani rumput laut tersebut dan sekaligus memberikan pemahaman kepada petani guna meningkatkan produksi dan kualitas hasil panen rumput laut.


1
Di sisi lain petani selalu berusaha untuk meningkatkan hasil produksi rumput laut dengan harapan untuk menjual produksi rumput laut pada tingkat harga yang dapat memberikan keuntungan guna dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Adanya kebijakan harga terhadap komoditi rumput laut membuat kegiatan petani selalu berusaha untuk memasarkan komoditi rumput laut kepada pasar secara langsung.
Jika dilihat dari segi perekonomian, pendapatan petani rumput laut di Desa Wawoncusu dapat dikatakan di atas rata-rata. Hal tersebut dapat dilihat dari terpenuhinya kebutuhan sehari-hari mereka hingga dapat membiayai pendidikan anak mereka hingga ke perguruan tinggi.
Dari uraian yang dikemukakan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul ”Analisis Produksi, Pendapatan dan Pemasaran Rumput laut di Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton”.    


1.2     Permasalahan
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan beberapa masalah yang dihadapi yaitu :
1.      Berapakah pendapatan yang diperoleh petani dalam satu siklus produksi budidaya rumput laut
2.      Bagaimana efisiensi penggunaan biaya produksi dalam budidaya rumput laut yang dikelolah petani


1.3     Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui besarnya pendapatan yang diperoleh petani dari budidaya rumput laut
2.      Untuk mengetahui efisiensi penggunaan biaya produksi dalam budidaya rumput laut yang dikelolah petani















2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistematika
Divisio   :Rhodophyta
Kelas      :Florideophyceae
Ordo       :Gracilariales
Famili     :Gracillariaceae
Genus     : gracillaria
Spesies   :Eucheumaspinosum

2.2 Morfologi
Morfologi rumput laut jenis gracillaria sp tidak memiliki perbedaan antara akar, batang,dan daun. Tanaman ini berbentuk batang yang disebut dengan talus dengan berbagai bentuk percabangannya, secara alami gracillaria hidup dengan melekatkan tallusnya pada subtrat yang berbentuk pasir, lumpur, karang mati, batu.

2.3 Syarat Tumbuh
Tahap awal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan  budidaya gracilaria dalam tambak, antara lain adalah keadaaan tambak yang akan digunakan (termasuk dasar tambak sebagai substrat), kualitas air dalam tambak dan sekitarnya, serta bibit tanaman baik mengenai jenis dan kualitasnya.

a.     Keadaan Tambak

-  Keadaan dasar tambak yang paling ideal adalah pasir yang mengandung lumpur atau tanah yang mengandung pasir dengan sedikit lumpur. Perlu diusahakan supaya dasar tambak tidak terlalu banyak mengandung lumpur (ketebalan lumpur maksimal 15 sampai 20 cm) dan bila dipandang perlu dapat dilakukan pengurasan lumpur. Beberapa alternatif bentuk/disain tambak dapat dilihat pada lampiran.

- Tambak harus bersih dari tanaman lain yang dapat membusuk, terutama yang dapat meningkatkan derajat keasaman dasar tambak. Derajat keasaman (pH) dasar tambak berkisar antara 6 sampai 9 dan yang paling ideal adalah sekitar 6,5 sampai 8,5. Untuk mengurangi keasaman dapat dilakukan terlebih dahulu "penebaran kapur".

- Tambak harus memiliki saluran air yang baik dan bersih (tidak terlalu banyak mengandung lumpur), serta setiap petak tambak diusahakan memiliki 2 (dua) buah pintu air, yang akan berfungsi sebagai pintu-pintu untuk air masuk dan air keluar.

- Pasang-surut air laut harus mempengaruhi kondisi air di dalam tambak untuk melakukan pergantian air.


3
- Gelombang atau arus air di dalam tambak (sebagai akibat angin atau pengaruh pasang surut) diupayakan tidak terlalu besar, sehingga tidak mengakibatkan berkumpulnya tanaman pada suatu tempat tertentu. Akan tetapi gelombang dan arus air di dalam tambak harus cukup untuk memberikan gerakan bagi tanaman.

- Pematang tambak supaya diusahakan cukup rapih dan dapat digunakan sebagai sarana jalan dalam pengelolaan tambak dan/atau dapat difungsikan pula sebagai tempat penjemuran hasil panen dengan menggunakan alas.


b.      Kualitas Air
1. Salinitas air berkisar antara 12o/oo - 30o/oo dan yang ideal sekitar 15o/oo - 25o/oo,
2. Suhu air berkisar antara 180C sampai 300C dan yang ideal sekitar 200C sampai 250 C.
3. pH air dalam tambak berkisar antara 6 sampai 9 dan yang ideal sekitar 6,5 sampai 8,5.
4. Air tidak mengandung lumpur sehingga kekeruhan (turbidity) air masih cukup bagi     tanaman untuk menerima sinar matahari.





























4
BAB III
TEKNIK BUDIDAYA

3.1 Pemilihan Lokasi
Sebagaimana di laut, rumput laut di tambak juga membutuhkan beberapa persyaratan tertentu yaitu :
a.       Berada disepanjang pantai dengan perairan langsung dari laut atau saluran air
b.      Kedalaman rata-rata 70cm
c.       Airnya jernih sehingga matahari dapat tembus kedasar tambak untuk proses fotosintesa
d.      Pemasukan dan pengeluaran air mudah dilaksanakan setiap saat dibutuhkan
e.       Bebas dari pengaruh air tawar yang berlebihan
f.       Dasar tambak rata dan bersih.

3.2 Kontruksi Tambak
a.       Pematang wiling harus kuat dan bebas dari bocoran
b.      Tinggi rata-rata 1m
c.       Pintu air 2 buah untuk pemasukkan dan pengeluaran

3.3 Pengapuran
          Sebelum penebaran bibit dilakukan maka terlebih dahulu dilakukan pengapuran yang bertujuan untuk menjernihkan air dan menstabilkan pH dan O2,

3.4Penyediaan Bibit
Berdasarkan pengalaman para petani rumput laut, bibit yang paling cocok untuk dibudidayakan adalah bibit lokal, karena disamping mudah dalam hal pengadaannya juga bibit tersebut telah cocok dengan persyaratan untuk pertumbuhannya secara alami.
Akan tetapi bila ternyata pada lokasi yang telah ditentukan tidak terdapat bibit lokal yang dikehendaki, maka dapat pula dilakukan dengan cara mendatangkan bibit yang sesuai dengan yang dikehendakidari lokasi lain. Bila terjadi hal yang demikian, maka yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara membawa bibit tersebut dengan sebaik-baiknya agar tidak terjadi kerusakan selama dalam perjalanan.

3.5Penanaman
1.      Terlebih dahulu tambak dialiri air sedalam 50-70cm
2.      Bibit yang telah disediakan ditebar secara merata di tambak
3.      Air dipertahankan selama 3-5 hari setelah penebaran, agar rumput laut tumbuh secara merata tanpa terganggu oleh arus air

3.6pemeliharaan dan pemupukan
Dalam pemeliharaan rumput laut, perawatan kualitas air dan kejernihan air sangat penting agar rumput laut tumbuh secara optimal. Pada saat air tambak tenang, rumput laut digoyang agar bersih dan tidak mengganggu proses metabolisme sehingga laju pertumbuhan cepat.
5
Pemberian pupuk pada rumput laut tidak sama dengan pemberian pupuk pada tanaman lain. Pupuk yang diberikan adalah urea sebanyak 50kg/ha dan NPK Ponska sebanyak 35kg/ha, dengan dosis pemupukan adalah :
-        25kg urea di campur dengan 20kg NPK Ponska pada saat umur tanaman 15 hari setelah tabur
-        25kg urea dan 15kg NPK Ponska 10 hari sebelum panen.

3.7Pengendalian Hama dan Penyakit
Tanaman rumput laut termasuk tahan hama kecuali ikan baronang dan lumut, cara pengendalian adalah dengan cara diversifikasi bandeng untuk membasmi lumut sedangkan untuk pengendalian hama ikan lainnya (baronang) digunakan pestisida,seperti drosban.

3.8Panen
Tanaman rumput laut dapat dipanen bila usia pemeliharaan sudah mencapai 25 – 30 hari. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan antara lain :
a.       Panen dilakukan saat air disurutkan
b.      Panen dilakukan saat umur tanaman 35-40 hari, selanjutnya setelah 26-30 hari
c.       Panen dilakukan dengan cara memetik tanaman secara merata dengan meninggalkan sebagian sebagai bibit
d.      Setelah panen selesai segera dimasukkan air baru kemudian dilakukan pemupukan ulangan

3.9    Pascapanen
a.       Rumput laut di cuci dan dibersihkan
b.      Penjemuran dilakukan diatas pematang dengan yang dialasi rang atau faring
c.       Lama penjemuran 1-2 hari, atau tergantung terik matahari
d.      Rumput laut yang kering apabila digenggam dan kemudian dilepaskan akan mengembangkembali dan warnanya coklat kehijauan dan kehitam-hitaman
e.       Rumput laut yang sudah kering disimpan pada tempat yang kering dan terlindungi.


















6
BAB IV
ANALISA USAHA TANI

4.1 Analisa Usaha
Analisa usaha tani tanaman rumput laut pada tambak seluas 1Ha sebagai berikut :

1.      Biaya produksi
-      PBB                                                                                = Rp       40.000,00
-      Bibit 1.000kg @ Rp 1.500                                              = Rp  1.500.000,00
-      Bibit ikan bandeng 600 ekor @ Rp. 150                         = Rp       90.000,00
                                               Total fixed cost               = Rp  1.630.000,00 
-      Pupuk :
·      Pupuk urea 1 sak @ Rp. 120.000                               = Rp       95.000,00
·      Pupuk NPK 1 sak @ Rp 150.000,00                          = Rp     150.000,00
·      Kapur 30 sak @ Rp 4.500,00                                     = Rp     135.000,00
-      Pestisida :
·      Drosban 1Ltr @ Rp 75.000,00                                   = Rp       75.000,00
-      Biaya tenaga kerja
·      Panen 1.500kg @ Rp 600,00                                     = Rp     900.000,00
·      Penanaman 5org @ Rp. 35.000                                  = Rp     175.000,00      
-      Penyusutan alat 1 kali proses produksi
·      Perahu dari drum plastik Rp 350.000                         = Rp       29.500,00      
·      Parang @ Rp 60.000                                                  = Rp         5.000,00
·      Petibak @ Rp 65.000                                                 = Rp         5.500,00      
                                               Total variabel cost         = Rp  1.395.000,00

2.      Total cost = fc + vc
           = Rp 1.630.000 + Rp 1.395.000
           = Rp 3.025.000

3.      Produksi 1,5 ton = 1.500 kg

4.      Harga Rp 4.500,00/kg
5.      Total revenju = 1.500 x 4.500 = Rp 6.750.000
6.      Profit = Rp 6.750.000 – Rp 3.025.000
 = Rp 3.725.000

7.      B/C ratio = Rp 3.725.000
       Rp 3.025.000
= 1,23


7
BAB V
KESIMPULAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.        Berdasarkan hasil analisa tingkat pendapatan petani yang diperoleh dari hasil usaha budidaya rumput laut perpanen dengan luas tambak 1ha sebesar Rp.3.725.000
2.        Berdasarkan hasil analisa tingkat penerimaan efisiensi biaya yang digunakan memperlihatkan, bahwa rumput laut layak diusahakan karena menghasilkan B/C ratio sebesar 1,23 untuk satu kali proses produksi

5.2 SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas maka disarankan beberapa hal sebagai berikut :
1.         Pemberian dan pemakaian sarana produksi bibit, pupuk, pengendalian Hama penyakit perlu ditingkatkan untuk mendapatkan produksi yang optimal
2.         Penanganan proses rumput laut seperti waktu panen, kebersihan, kekeringan dan pengepakan harus mengikuti perlakuan teknis sehingga dapat bersaing di pasaran terutama untuk mendapatkan nilai jual yang tinggi.














8
DAFTAR PUSTAKA
Anggadiredja, J.T., Achmad Z., Heri P., Sri A.. 2006. Rumput Laut. Penebar Swadaya. Jakarta.
Poncomulyo, T., H. Maryani, dan L. Kristiana. 2006. Budidaya dan PengolahanRumput Laut. PR Agromedia Pustaka, Jakarta.
Suryati, E., A. Parenrengi dan RachmanSyah.2007.RisetPengembanganRumput Laut melalui Kultur Jaringan dan Fusi Protoplas. Seminar Nasional Breeding, Genetika dan Bioteknologi Perikanan. Kuta-Bali

Suryati, E., Sulaeman, A., Dalfiah, Rifka Pasandre. 2000. Teknik Kultur Jaringan Gracilaria sp Dalam Rangka Penyediaan Benih pada Budidaya.Prosending Seminar Hasil Penelitian Perikanan. Jakarta

Sutomo, 2006. Rumput Laut. Jakarta: Pita Merah.
Anggadiredja, 2006. Manfaat Rumput Laut. Jakarta: Usaha Nasional.













9
MAKALAH AGRIBISNIS PERIKANAN
“ANALISA USAHA RUMPUT LAUT PADA TAMBAK”

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0ehVIRm83prHtirAZQV0iWfNMBY2XmzHJICaAyrMAY38gioO5_QQfPFgmtuOkyyssT8inKkZmXkSmso6H9mC9AN_wP_ggL7KewRwii7tlb7fZXCAdTr3XwlypPoo5OfpRV_or81IpONE/s320/Logo_Unpar.jpg

DISUSUN OLEH :
NAMA     : BENDHARD NIKO SITUMORANG
NIM       : CDA 112 001
PRODI    : Manajemen Sumberdaya Perairan / MSP


DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAUKULTAS PERTANIAN
JURUSAN PERIKANAN
2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar